Imam Ghazali menjelaskan makna cinta antara sesama Muslim. Bersalaman. (ilustrasi) REPUBLIKA.CO.ID, Mencintai sesama manusia karena Allah SWT semata, ungkap Imam al-Ghazali dalam mahakaryanya, Ihya' Ulumiddin, tidak akan berorientasi pada kepentingan meraih manfaat sepihak. Cinta semacam ini akan mendapatkan dua keuntungan.
Al-Ghazali juga pernah mengatakan bahwa tujuan utama pendidikan itu adalah untuk pembentukan akhlak, seperti pernyataannya :“Tujuan murid dalam mempelajari segala ilmu pengetahuan pada masa sekarang, adalah kesempurnaan dan keutamaan jiwanya”. Pernyataan al-Ghazali di atas kemudian didukung oleh Athiyah al-Abrasy “Pendidikan budi pekerti
Kisah Imam Al-Ghazali di Bawah Ancaman Pembunuh Hashashin. Dalam pengembaraannya, al-Ghazali mempertanyakan semua hal yang sebelumnya dia anggap benar. Eamon Gearon dalam bukunya berjudul " Turning Points in Middle Eastern History " mengungkap Al-Ghazali telah memulainya terlebih dahulu (meragukan segala sesuatu) dibandingkan dengan Bapak
Demi mendapatkan ilmu, Al-Ghazali dengan penuh semangat datang Kota Nishapur untuk berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini. Berbekal kesungguhan dan otak yang encer dalam waktu yang tak terlalu lama, Al-Ghazali pun mampu menguasai beragam ilmu keislaman, seperti fikih mazhab Syafi'i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, mantiq, hikmah, dan filsafat.
Lantaran itu, Imam al-Ghazali menganggap hal ini sebagai satu kebodohan dan bukan satu disiplin ilmu. Menurut beliau alam ini tunduk kepada kehendak Allah s.w.t. Tuhan yang mengawasi seluruh alam ini. Imam al-Ghazali juga berpendapat iaitu apabila disiplin ilmu dipelajari dengan pendekatan yang betul pasti tidak ada bahayanya.
Ma6Ps.
pertanyaan tentang imam al ghazali